Pesan Kemerdekaan dari Pantai Maluk: Menghormati Mereka yang Bekerja dengan Tangan Sendiri
Sumbawa Barat, SapaNTB.com – Semangat kemerdekaan di Pantai Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), tidak sekadar dirayakan melalui Parade Musik Pantai Maluk 2026, Minggu (6/9/2026). Momentum tersebut menjadi ruang untuk memberikan penghormatan kepada masyarakat yang selama ini bekerja menjaga kebersihan pantai dengan cara sederhana namun penuh ketulusan.
Dalam kesempatan itu, Andy Keitaro menyampaikan apresiasi khusus kepada Ibu Su’ud dan Pak Su’ud yang hampir setiap hari secara mandiri membersihkan Pantai Maluk. Keduanya menyapu, memungut dan mengangkut sampah, bahkan menyediakan bak sampah serta menggunakan kendaraan pickup untuk mendukung aktivitas tersebut.
Penghargaan diberikan bukan semata karena pekerjaan yang dilakukan, melainkan sebagai bentuk penghormatan atas keteguhan mereka mencari rezeki secara halal sekaligus menjaga lingkungan yang menjadi ruang bersama masyarakat.
“Mencari rezeki yang halal bukan sesuatu yang rendah. Menjaga kebersihan lingkungan bukan pekerjaan yang hina. Justru orang-orang yang mau melakukan pekerjaan yang tidak semua orang mau lakukan, merekalah yang patut kita hormati,” ujar Andy dalam pesan kemerdekaannya.
Andy mengatakan, dirinya sengaja meminta seluruh keluarga Ibu dan Pak Su’ud hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, penghargaan itu penting agar anak-anak mereka dapat melihat bahwa pekerjaan orang tuanya bukan sesuatu yang memalukan, tetapi justru layak dibanggakan.
“Jangan pernah malu dengan pekerjaan orang tua kalian. Jangan pernah merasa rendah karena orang tua kalian membersihkan sampah. Kalian justru harus bangga,” katanya.
Sebagai bentuk apresiasi, Andy memberikan sepeda kepada Ibu dan Pak Su’ud. Ia menegaskan, pemberian tersebut bukan dinilai dari harga maupun nilai bendanya, melainkan sebagai simbol terima kasih atas dedikasi yang telah mereka berikan untuk Pantai Maluk.
Ia berharap, sepeda tersebut tidak hanya dibawa pulang sebagai hadiah, tetapi juga membawa rasa bangga bagi keluarga Su’ud.
“Karena malam ini kami ingin mengatakan kepada keluarga Su’ud: kami bangga kepada kalian,” tegasnya.
Berawal dari Sapu di Pantai
Kepedulian terhadap kebersihan Pantai Maluk, kata Andy, bermula dari pengalaman sederhana ketika dirinya berniat berjalan kaki sekitar 30 menit di kawasan pantai.
Saat berjalan, Ia melihat seorang perempuan menyapu pantai di sekitar Kios Biru. Perempuan tersebut kemudian diketahui bernama Ibu Nurul, sosok yang selama ini turut peduli terhadap kebersihan Pantai Maluk.
Percakapan dengan Ibu Nurul membuat Andy merefleksikan keberadaannya yang telah lebih dari 20 tahun tinggal di Maluk.
“Sejak saat itu saya bertekad, apa pun yang bisa saya bantu untuk kegiatan yang baik bagi Pantai Maluk, saya akan kerjakan,” ujarnya.
Dari pertemuan tersebut, ia kemudian menemukan pasangan Su’ud yang secara konsisten membersihkan pantai. Dedikasi mereka mendorong lahirnya gagasan untuk mengajak lebih banyak masyarakat terlibat melalui kegiatan yang menyenangkan.
Konsep tersebut kemudian dikembangkan melalui senam sehat, kegiatan bersih-bersih pantai atau Clean Up, hingga pemberian kupon dan hadiah bagi masyarakat yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak.
Perlahan, masyarakat mulai berkumpul dan Pantai Maluk semakin hidup. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi aktivitas kebersihan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Andy menilai, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Menurutnya, perubahan justru dapat lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Perubahan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang-kadang perubahan dimulai dari seseorang yang mengambil sapu dan membersihkan sesuatu yang bukan kewajibannya,” katanya.
Kemerdekaan dan Kehormatan
Dalam pesan kemerdekaannya, Andy juga menekankan bahwa makna kemerdekaan tidak berhenti pada mengenang jasa para pahlawan yang merebut kemerdekaan Indonesia.
Kemerdekaan, menurutnya, juga berarti menghargai setiap orang yang bekerja dengan jujur, menggunakan tangannya sendiri, serta memberikan manfaat bagi orang lain.
Ia secara khusus memberikan penghargaan kepada Ibu Nurul dan Ibu Dewi yang dinilai telah menjadi bagian penting dalam perjalanan gerakan kepedulian terhadap Pantai Maluk.
Namun, penghormatan khusus diberikan kepada Ibu Su’ud dan Pak Su’ud yang selama ini menghadapi bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga pandangan merendahkan terhadap pekerjaan yang mereka jalani.
Andy mengungkapkan, keluarga Su’ud pernah merasakan beratnya pandangan sosial terhadap pekerjaan membersihkan sampah. Namun, Ibu Su’ud tetap teguh dengan prinsipnya.
“Ini halal, Nak. Ibu tidak mengemis,” ungkap Andy mengutip pernyataan Ibu Su’ud.
Bagi Andy, kalimat tersebut merupakan bentuk nyata kehormatan dalam bekerja.
Ia mengajak masyarakat Pantai Maluk untuk tidak meremehkan pekerjaan apa pun selama dilakukan dengan jujur dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun orang lain.
“Bekerja dengan jujur bukan sesuatu yang memalukan,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan menjaga Pantai Maluk telah menunjukkan bagaimana sebuah tindakan kecil dapat berkembang menjadi gerakan kolektif.
“Dari sapu itu lahir kepedulian. Dari kepedulian lahir gerakan. Dari gerakan lahir kebersamaan. Dan malam ini, kebersamaan itu berdiri di hadapan kita semua,” katanya.
Ia berharap Pantai Maluk ke depan tetap menjadi ruang publik yang bersih, sehat, ramai, dan membahagiakan sekaligus menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa Barat.
Kegiatan Parade Musik Pantai Maluk 2026 tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Sumbawa Barat beserta masyarakat dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.(SN01)
