Dikes KSB: Peningkatan Kapasitas Pustu di Wilayah Terluar Jadi Kebutuhan
Sumbawa Barat, SapaNtb.com – Peningkatan kapasitas Puskesmas Pembantu (Pustu) di wilayah terluar Kabupaten Sumbawa Barat menjadi kebutuhan mendesak guna menjamin akses layanan kesehatan dasar bagi masyarakat, terutama saat akses menuju fasilitas kesehatan utama terputus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, dr Carlof Sitompul, menegaskan bahwa penguatan Pustu sangat penting bagi warga di daerah terpencil yang kerap mengalami kesulitan menjangkau rumah sakit, bahkan untuk penanganan penyakit ringan.
Menurutnya, kondisi geografis di sejumlah wilayah seperti Mantar di Kecamatan Poto Tano, Rarak Runges di Kecamatan Brang Rea, Talonang di Kecamatan Sekongkang, serta Mataiang di Kecamatan Brang Ene, masih menghadapi keterbatasan akses yang berdampak pada lambatnya penanganan medis. “Dalam situasi tertentu, keterisolasian wilayah bisa menyebabkan keterlambatan penanganan jika tidak didukung fasilitas kesehatan terdekat yang memadai,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Dinas Kesehatan mulai mengembangkan konsep “Pustu Plus”, yakni peningkatan fungsi Pustu tidak hanya sebagai layanan kesehatan dasar, tetapi juga dilengkapi kesiapan sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, serta kemampuan penanganan awal kegawatdaruratan.
Melalui konsep tersebut, Pustu diharapkan mampu memberikan pertolongan pertama pada kasus darurat seperti serangan asma maupun kondisi kritis lainnya sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan lanjutan.
Upaya penguatan juga telah dilakukan sejak tahun 2025 dengan penempatan Ambulans Tim Reaksi Cepat (TRC) di wilayah Mantar dan Talonang. Kehadiran ambulans ini dinilai efektif dalam mempercepat respons terhadap kondisi darurat, sehingga pasien dapat segera dievakuasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Selain itu, khusus di Pustu Talonang, penguatan SDM dilakukan dengan menempatkan tujuh tenaga kesehatan yang terdiri dari dua perawat, empat bidan, dan satu pengemudi ambulans. “Ketersediaan tenaga ini sangat membantu, terutama dalam pelayanan ibu bersalin dan penanganan kondisi darurat lainnya,” jelas dr Carlof.
Ia menambahkan, model pelayanan berbasis penguatan Pustu yang didukung TRC mampu mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah terpencil, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap rumah sakit yang jaraknya relatif jauh dari permukiman warga.
Ke depan, konsep “Pustu Plus” akan didorong untuk dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah guna mendapatkan dukungan kebijakan serta penganggaran yang memadai, sehingga pemerataan layanan kesehatan dapat terwujud hingga ke wilayah perbatasan dan terluar.
Di sisi lain, tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah terpencil diharapkan tetap menjaga semangat dan komitmen sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat di tengah berbagai keterbatasan. (SN01)






